Gue masih ingat banget momen itu. Akhir semester, saldo rekening tinggal Rp180 ribu, tapi kepala udah penuh rencana mau keliling Jawa. Teman-teman satu kos pada pulang kampung, gue? Nggak mungkin pulang, tiketnya aja udah seharga uang makan dua minggu. Jadi ya udah, gue nekat jalan aja dengan modal seadanya.
Kedengarannya bodoh? Mungkin. Tapi justru dari kekonyolan itu gue belajar banyak hal soal traveling yang nggak pernah diajarin di kelas mana pun. Dan buat kamu yang sekarang lagi jadi mahasiswa perantau — jauh dari rumah, uang kiriman sering telat, tapi jiwa jalan-jalannya nggak pernah surut — tulisan ini buat kamu.
Nekat Berangkat dengan Rp180 Ribu: Keputusan yang Hampir Bikin Nyese
Rencana awal gue simpel: naik kereta ekonomi ke satu kota, nginep di rumah teman, balik lagi. Tapi ternyata kereta ekonomi pun bisa bikin dompet menjerit kalau kamu beli tiket mendadak. Gue akhirnya milih bus antarkota yang harganya setengah, dengan konsekuensi duduk 9 jam lebih dan berhenti di terminal yang bahkan nggak ada di Google Maps.
Sampai di kota tujuan, gue sadar satu hal: ongkos sampai itu cuma setengah pertempuran. Sisanya? Makan, transport lokal, dan tiket masuk tempat wisata. Di sinilah gue mulai belajar trik-trik kecil yang sekarang jadi bekal gue tiap jalan.
Baca juga: Liburan Sambil Kerja? Ini Ritual yang Gue Lakuin
"Traveling itu bukan soal seberapa jauh kamu pergi, tapi seberapa pintar kamu ngatur apa yang ada di dompet."
Gue mulai jalan kaki lebih banyak. Bukan karena sehat, tapi karena ojek online sekali tarik aja udah setara harga nasi padang. Ternyata dengan jalan kaki, gue malah nemu warung kopi murah, pasar tradisional, dan sudut kota yang nggak pernah muncul di postingan Instagram orang. Lucu ya, hal-hal "gratis" justru yang paling gue inget sampai sekarang.
Pelajaran yang Baru Gue Sadari Setelah Beberapa Kali Nekat
Dari trip pertama yang serba mepet itu, gue mulai ngumpulin "ilmu" yang nggak ada di buku panduan wisata mana pun. Beberapa di antaranya:
- Riset itu nggak makan biaya, tapi nghemat banyak. Cek harga tiket seminggu sebelumnya, bandingin moda transportasi, dan baca review penginapan murah. Setengah jam riset bisa nyelametin ratusan ribu.
- Bawa bekal air minum sendiri. Kedengeran sepele, tapi beli air mineral tiga kali sehari selama tiga hari itu lumayan numpuk.
- Nginep di rumah teman atau hostel dorm. Selain murah, kamu jadi kenal orang baru yang sering punya info tempat makan murah setempat.
- Jangan malu nanya harga dulu. Ini nih yang sering bikin mahasiswa boncos — malu nanya, ujungnya bayar mahal.
Yang paling penting sih sebenarnya bukan trik-trik di atas. Yang paling penting adalah mindset-nya. Kalau kamu berangkat dengan ekspektasi harus nginep di hotel bagus dan makan di tempat hits, ya siap-siap aja kecewa. Tapi kalau kamu berangkat dengan mindset "yang penting sampai dan nikmatin", perjalanan jadi jauh lebih ringan.
Soal Prioritas: Uang Kiriman Bukan Cuma Buat Makan
Nah, ini bagian yang agak sensitif buat sesama perantau. Gue pernah di posisi harus milih: bayar uang kos tepat waktu atau jalan-jalan. Dan gue pernah salah pilih. Akibatnya, gue harus ngutang ke teman buat nutup biaya hidup seminggu. Nggak banget, kan?
Dari situ gue belajar bikin pos-pos kecil di anggaran bulanan. Ada pos "dana iseng" yang khusus buat jalan-jalan, isinya nggak besar, tapi konsisten disisihkan tiap bulan. Kadang cuma Rp50 ribu, kadang Rp100 ribu kalau lagi ada rezeki lebih. Setelah tiga-empat bulan, dananya lumayan juga buat trip singkat akhir pekan.
Yang gue tekankan: jangan sampai traveling bikin kamu lupa kewajiban. Uang kos, makan, dan kebutuhan kuliah itu nomor satu. Traveling itu bonus, bukan hak yang harus dipaksakan tiap bulan.
Jalan-Jalan Nggak Harus Jauh dan Mahal
Ini pelajaran yang paling gue pegang sampai sekarang. Selama jadi mahasiswa perantau, gue sering banget ngira traveling itu harus ke luar kota, naik pesawat, atau minimal ke tempat yang fotonya bagus. Padahal, kota tempat gue kuliah pun punya banyak tempat yang belum gue jelajahi.
Gue mulai biasain "traveling lokal" — naik angkot ke ujung kota, nyasar ke kampung yang ada sawahnya, atau sekadar duduk di taman kota sambil baca buku. Biayanya kadang cuma ongkos angkot dan seporsi bakso. Tapi rasanya? Bisa dibilang hampir sama nikmatnya dengan jalan jauh, minus capek di jalan.
Buat kamu yang dompetnya lagi tipis tapi pengen banget jalan, coba deh mulai dari sekitar dulu. Kamu bakal kaget betapa banyak hal menarik yang selama ini kamu lewatin cuma karena kamu sibuk mikirin tempat jauh.
Yang Gue Bawa Pulang Selain Oleh-oleh
Kalau ditanya apa yang paling berharga dari semua trip nekat gue, jawabannya bukan foto atau oleh-oleh. Tapi kemampuan buat ngatur uang dengan lebih sadar, nggak gampang panik kalau rencana berubah, dan nemu kebahagiaan dari hal-hal sederhana.
Traveling buat mahasiswa perantau itu bukan soal pamer destinasi. Ini soal belajar mandiri, belajar ngatur prioritas, dan belajar menikmati proses. Jadi kalau kamu lagi pengen jalan tapi dompet lagi tipis, jangan langsung nyerah. Coba hitung ulang, cari cara yang lebih murah, dan mulai dari tempat yang paling dekat dulu. Siapa tahu, perjalanan paling berkesan kamu justru dimulai dari modal yang paling sedikit.
Gue aja bisa kok dengan Rp180 ribu. Kamu juga pasti bisa, asal mau sedikit kreatif dan nggak malu jalan kaki.