Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Backpacker IDBackpacker ID
Backpacker ID - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Liburan Sambil Kerja? Ini Ritual yang Gue Lakuin

Liburan Sambil Kerja? Ini Ritual yang Gue Lakuin

Cerita singkat soal trip kerja pertama yang berantakan, plus ritual praktis biar liburan tetap jalan tanpa bikin klien kabur.

Liburan Sambil Kerja? Ini Ritual yang Gue Lakuin

Dua tahun lalu gue nekat beli tiket ke Yogyakarta padahal deadline proyek masih numpuk. Niatnya sih workation: pagi jalan-jalan, malam kerja. Kenyataannya? Gue malah duduk di kafe sambil buka laptop, mata nempel ke layar, sementara temen-temen gue asik foto di candi. Pulang ke penginapan, badan capek, kerjaan nggak kelar, dan gue merasa udah buang uang buat liburan yang nggak kerasa liburan.

Kejadian itu bikin gue sadar satu hal: traveling buat pekerja lepas itu bukan soal punya laptop dan wifi cukup. Ada ritual yang harus dibangun biar dua-duanya nggak jadi korban. Dan setelah beberapa kali coba-coba, akhirnya gue nemu pola yang lumayan masuk akal.

Kenapa Workation Sering Gagal di Awal

Masalah utamanya bukan tempat, bukan juga koneksi internet. Masalahnya ada di ekspektasi. Kita berangkat dengan kepala penuh bayangan "kerja sambil santai", padahal otak kita nggak bisa benar-benar multitasking antara mode liburan dan mode kerja. Hasilnya, dua-duanya setengah-setengah.

Gue pernah coba jalan tengah: pagi buka laptop, siang jalan, sore balik kerja. Yang terjadi justru gue bolak-balik buka-tutup laptop tanpa fokus, dan jalan-jalannya pun sambil mikirin email yang belum dibales. Capek mental.

Baca juga: Ceklis 7 Hal Sebelum Nge-trip: Freelancer Wajib Simak

Yang kedua, kita sering lupa kalau traveling itu punya "biaya tersembunyi": waktu transit, antre, nyari makan, adaptasi sama tempat baru. Semua itu nyedot energi. Kalau nggak dihitung, sisa energi buat kerja pasti habis duluan.

Ritual yang Gue Lakuin Sebelum Berangkat

Bagi Trip Jadi Dua Mode yang Jelas

Sekarang gue nggak lagi coba "kerja sambil liburan" dalam satu hari. Gue bagi trip jadi blok-blok. Misal tiga hari pertama full liburan, dua hari berikutnya full kerja, sisanya liburan lagi. Blok yang jelas bikin otak nggak bingung mau mode apa hari ini.

Kalau trip-nya cuma dua hari, ya udah, jangan dipaksa kerja. Kadang keputusan paling dewasa itu justru nggak bawa laptop sama sekali.

Kabarin Klien Sebelum Berangkat

Ini kelihatan sepele tapi efeknya besar. Gue selalu kirim pesan singkat ke klien yang aktif: "Gue bakal di luar kota tanggal segini, respons mungkin agak lambat tapi tetap masuk." Nggak ada yang protes selama gue kasih info di awal. Yang bikin masalah itu kalau klien taunya belakangan.

Klien nggak butuh kamu selalu online. Mereka butuh tahu kapan kamu bisa diandalkan.

Siapin "Emergency Slot" Satu Jam

Gue selalu sisihin satu jam per hari buat cek hal-hal mendesak. Bukan buat kerja penuh, cuma buat balas chat penting atau benerin hal kecil. Satu jam ini nyelametin gue dari rasa was-was sepanjang hari.

Hal Praktis yang Bikin Trip Kerja Nggak Berantakan

Selain ritual di atas, ada beberapa hal teknis yang sekarang selalu gue perhatiin. Mungkin kamu juga perlu:

  • Pilih penginapan yang ada meja dan kursinya. Kasur emang nyaman, tapi kerja di kasur itu resep buat ngantuk dan punggung pegel.
  • Cek koneksi sebelum booking. Baca review soal wifi, atau tanya langsung ke penginapan. Jangan cuma percaya tulisan "free wifi" di iklan.
  • Bawa power bank dan colokan tambahan. Kafe yang ramai sering rebutan colokan, dan kamu nggak mau kehabisan baterai di tengah meeting.
  • Simpan file penting offline. Kadang sinyal tiba-tiba jelek, dan kamu tetap harus bisa buka dokumen.
  • Jangan jadwalin meeting pagi-pagi banget. Kalau lagi di kota lain, pagi itu waktunya nikmatin tempat, bukan duduk di depan layar.

Soal biaya, gue juga belajar satu hal: workation itu bukan cara ngirit liburan. Kadang malah lebih mahal karena kamu bayar penginapan lebih lama dan makan di tempat wisata. Jadi jangan paksain workation cuma biar keliatan produktif. Kalau budget mepet, mending liburan singkat yang beneran libur.

Yang Paling Gue Syukuri dari Cara Ini

Setelah punya ritual ini, gue jadi bisa jalan-jalan tanpa rasa bersalah. Kerjaan tetap kelar, dan momen liburannya juga nggak setengah hati. Yang paling gue inget bukan soal berapa banyak tempat yang gue datengin, tapi momen kecil kayak sarapan di warung pinggir jalan sambil nggak mikirin notifikasi.

Buat kamu yang kerja lepas dan pengen coba traveling sambil kerja, saran gue simpel: mulai dari trip pendek, atur ekspektasi, dan jangan malu bilang ke klien kalau kamu lagi di luar kota. Traveling buat freelancer itu mungkin banget, asal kita jujur sama diri sendiri soal kapasitas dan waktu.

Kalau kamu udah punya ritual sendiri, mungkin beda versi, nggak apa-apa. Yang penting kamu tahu kapan harus buka laptop dan kapan harus nutupnya rapat-rapat.

Tags: freelancer workation traveling produktivitas tips