Dulu, tiap kali lihat foto keluarga teman-teman lagi liburan di Bali atau naik gunung, aku cuma bisa menghela napas. Bukan karena nggak pengin, tapi karena hitungan di kepala selalu berakhir sama satu kata: mahal. Anak dua, istri, aku, ditambah tiket, penginapan, makan... angkanya langsung bikin mundur duluan sebelum sempat cari tanggal.
Tapi beberapa tahun lalu, tepat setelah gajian dan dompet masih agak tebal, istriku ngajak ngobrol santai. "Kita tuh nggak butuh liburan mewah, kita cuma butuh keluar dari rutinitas." Kalimat itu nyangkut di kepala. Dan sejak itu, cara kami memandang liburan berubah total.
Mulai dari yang paling dekat, bukan yang paling jauh
Kesalahan terbesar kami dulu adalah mikirin destinasi dulu, baru ngitung biaya. Sekarang dibalik: kami lihat dulu sisa uang bulan ini, baru cari tempat yang masuk budget. Hasilnya sering lucu — ternyata banyak banget tempat seru yang jaraknya cuma 1-2 jam dari rumah.
Baca juga: Jangan Tunggu Modal Besar: Pemilik Usaha Bisa Traveling Mulai dari Sini
Kami tinggal di Jakarta, dan dulu aku mikir liburan itu harus keluar kota. Padahal ada Kebun Raya Bogor, ada Sentul, ada Puncak, ada pantai Anyer yang bisa dijangkau dengan mobil sewaan atau bahkan kereta. Anak-anak nggak peduli itu dekat atau jauh — yang mereka ingat adalah momennya.
Coba deh pikirin: anak umur 5 tahun nggak akan nanya "ini berapa kilometer dari rumah?" yang dia tanya ya "kapan kita berangkat?" Jadi ya, mulai dari yang dekat dulu. Hemat waktu, hemat bensin, hemat tenaga.
Waktu terbatas? Justru itu yang bikin fokus
Keluarga kecil di kota besar biasanya punya masalah yang sama: waktu. Cuti tahunan terbatas, akhir pekan cuma dua hari, dan itu pun kadang kepotong urusan kantor atau kerjaan rumah. Aku sempat frustrasi karena mikir "cuma dua hari, mau ke mana?"
Eh, ternyata dua hari itu cukup kalau direncanakan. Kami mulai rutin bikin "weekend trip" ke kota satelit. Sabtu pagi berangkat jam 6, sampai jam 8, sarapan di tempat lokal, jalan-jalan sampai sore, nginep di penginapan murah, Minggu sore balik ke rumah. Total biaya sering di bawah 1 juta untuk berempat.
Yang bikin liburan berkesan bukan lamanya, tapi niatnya buat benar-benar hadir di momen itu.
Kuncinya: jangan overthinking soal itinerary. Kadang kami cuma punya satu tujuan utama per hari, sisanya ikutin mood anak. Kalau anak udah rewel, ya udah, balik ke penginapan, main di kolam, atau beli es krim. Nggak perlu maksain semua spot kejadian.
Bikin "kas liburan" kecil-kecilan
Ini yang paling ngebantu kami. Tiap bulan, aku sisihin 200-300 ribu ke rekening terpisah khusus buat liburan. Kecil? Iya. Tapi setahun jadi 2,4-3,6 juta. Itu udah cukup buat 3-4 kali weekend trip atau satu liburan agak jauh.
Yang penting disiplin: rekening itu jangan disentuh buat kebutuhan lain. Namanya juga kas liburan. Kalau bulan ini nggak kepakai, ya nambah terus. Kadang kami jadi bisa naik kelas dikit — dari penginapan biasa ke yang ada kolam renangnya, misalnya.
Modal terbatas bukan berarti nggak bisa apa-apa
Ada beberapa hal yang aku pelajari selama beberapa tahun ini soal traveling modal minim:
- Manfaatin promo dan cashback. Aku nggak pernah beli tiket atau booking penginapan tanpa cek promo dulu. Kadang selisihnya lumayan, bisa buat makan sehari.
- Bawa bekal dan air minum. Kedengeran receh, tapi belanja air mineral dan snack di tempat wisata itu bisa bikin boncos. Kami selalu bawa tumbler dan beberapa roti buat jaga-jaga.
- Cari penginapan yang ada dapur atau kulkas kecil. Kadang lebih murah masak mie sendiri daripada makan di restoran tiga kali sehari.
- Pilih weekday kalau bisa. Harga penginapan dan tiket sering lebih murah, dan tempat wisata nggak sepadat weekend. Kalau cuti cuma sehari, ambil Jumat atau Senin biar dapet sensasi "long weekend".
- Libatkan anak dalam perencanaan. Ini bukan cuma soal hemat, tapi bikin mereka merasa punya andil. Anakku yang sulung sekarang hobi bikin "daftar barang bawaan" versinya sendiri.
Oh iya, satu lagi: jangan takut sama yang namanya staycation. Kadang liburan terbaik itu ya di kota sendiri. Sewa hotel murah di pusat kota, jalan kaki keliling, cobain makanan yang belum pernah dicoba. Anak-anak tetap senang, dan kita nggak capek di jalan.
Yang paling penting: mulai aja dulu
Aku sering ketemu orang tua yang bilang "nanti kalau anak udah gede" atau "nanti kalau tabungan udah cukup". Masalahnya, "nanti" itu nggak pernah datang dengan sendirinya. Anak-anak tumbuh cepat, dan momen yang kamu tunda hari ini nggak akan balik lagi bentuknya sama.
Jadi saran aku simpel: mulai dari yang paling kecil dan paling dekat dulu. Nggak perlu nunggu punya tabungan gede atau jadwal cuti panjang. Cukup satu akhir pekan, satu tempat yang belum pernah dikunjungi, dan niat buat benar-benar menikmatinya bareng keluarga.
Karena pada akhirnya, yang diingat anak-anak bukan berapa uang yang kamu habiskan, tapi seberapa sering kamu ada di samping mereka sambil ketawa-ketawa karena hal receh. Dan itu, untungnya, nggak butuh modal besar.